Selasa, 15 September 2015

                                                             ANAK PENDIAM

      Jadi kenapa saya mengambil judul ini,soalnya aku termasuk pendiam lho (kata orang sih gitu). Udahlah jangan tanya siapa orangnya yang jelas ini adalah suara hatinya.
      Seorang yang pendiam itu sebenarnya nggak beda dengan mereka yang pinter ngomong. Punya banyak cerita dan hal yang ingin diungkapkan. Ada yang lucu dan ada yang sedih.
Tapi karena satu masalah saja yaitu tidak bisa menceritakan secara menarik, walaupun itu sebenarnya lebih berhak mendapatkan perhatian. Kemudian masalah melebar pada kurangnya jumlah teman. Masalah lain adalah sering tidak diajak oleh teman-teman untuk ngobrol bersama karena sudah dicap sebagai pendiam
.
      Kadang juga si pendiam di identikan dengan anak pinter yang serius cuma belajar atau bekerja. Ketika masa-masa sma si pendiam biasanya tidak akan punya pacar karena sebab kedua sisi.
Sisi yang pertama adalah walaupun cakep dan ganteng tapi karena pendiam, maka gadis yang naksirpun nggak berani melakukan pdkt. Sisi yang kedua adalah dari si pendiam itu sendiri. Walaupun dia naksir pada seorang gadis, tapi tak ada kemampuan yang romantis untuk mengungkapkan cintanya.
     Ketidak beranian mengungkapkan cinta pada seorang gadis biasanya akan berbuah puisi-puisi dan catatan pribadi yang tak seorangpun tau selain si pendiam itu. Atau juga simbol-simbol yang sebenarnya penuh dengan ungkapan cinta yang tercetak seperti di buku pelajaran, potongan kertas dan sebagainya. Atau lembaran surat cinta yang tidak sampai tersampaikan pada pujaan hati si pendiam itu.
     Perasaan malu jika perasaan cintanya diketahui orang lain. Rasa tidak sanggup menyandang status bahwa sudah punya pacar.
Yang paling terasa adalah perasaan gugup, berdebar serta grogi ketika berada atau berpapasan dengan pujaan hati.
Sungguh perasaan cinta tak tersampaikan dan terus hanyut terbawa waktu.

Minggu, 23 Agustus 2015


CIUNG WANARA


Prabu Barma Wijaya Kusuma memerintah kerajaan Galuh yang sangat luas. Permaisurinya 2 orang. Yang pertama bernama Pohaci Naganingrum dan yang kedua bernama Dewi Pangrenyep. Keduanya sedang mengandung
Pada bulan ke-9 Dewi Pangrenyep melahirkan seorang putra. Raja sangat bersuka cita dan sang putra diberi nama Hariang Banga.


Hariang Banga telah berusia 3 bulan, namun permaisuri Pohaci Naganingrum belum juga melahirkan. Khawatir kalau-kalau Pohaci melahirkan seorang putra yang nanti dapat merebut kasih sayang raja terhadap Hariang Banga, Dewi Pangrenyep bermaksud hendak mencelakakan putra Pohaci.
Setelah bulan ke-13 Pohaci pun melahirkan. Atas upaya Dewi Pangrenyep tak seorang dayang-dayang pun diperkenankan menolong Pohaci, melainkan Pangrenyep sendiri.
Dengan kelihaian Pangrenyep, putra Pohaci diganti dengan seekor anjing. Dikatakannya bahwa Pohaci telah melahirkan seekor anjing. Bayi Pohaci dimasukkannya dalam kandaga emas disertai telur ayam dan dihanyutkannya ke sungai Citandui.
Karena aib yang ditimbulkan Pohaci Naganingrum yang telah melahirkan seekor anjing, raja sangat murka dan menyuruh Si Lengser (pegawai istana) untuk membunuh Pohaci. Si Lengser tidak sampai hati melaksanakan perintah raja terhadap Pohaci, permaisuri junjungannya. Pohaci diantarkannya ke desa tempat kelahirannya, namun dilaporkannya telah dibunuh.
Adalah seorang Aki bersama istrinya, Nini Balangantrang, tinggal di desa Geger Sunten tanpa bertetangga. Sudah lama mereka menikah, tetapi belum dikarunia anak. Suatu malam Nini bermimpi kejatuhan bulan purnama. Mimpi itu diceritakannya kepada suami dan sang suami mengetahui takbir mimpi itu, bahwa mereka akan mendapat rezeki. Malam itu juga Aki pergi ke sungai membawa jala untuk menangkap ikan.
Betapa terkejut dan gembira ia mendapatkan kandaga emas yang berisi bayi beserta telur ayam, Mereka asuh bayi itu dengan sabar dan penuh kasih sayang. Telur ayam itu pun mereka tetaskan, mereka memeliharanya hingga menjad
i seekor ayam jantan yang ajaib dan perkasa. Anak angkat ini mereka beri nama Ciung Wanara.
Setelah besar bertanyalah Ciung Wanara kepada ayah dan ibu angkatnya. Terus terang Aki dan Nini menceritakan tentang asal-usul Ciung Wanara. Setelah mendengar cerita ayah dan ibu angkatnya, tahulah Ciung Wanara akan dirinya.
Suatu hari Ciung Wanara pamit untuk menyabung ayamnya dengan ayam raja, karena didengarnya raja gemar menyabung ayam. Taruhannya ialah, bila ayam Ciung Wanara kalah ia rela mengorbankan nyawanya. Tetapi bila ayam raja kalah, raja harus bersedia mengangkatnya menjadi putra mahkota. Raja menerima dengan gembira tawaran tersebut.
Sebelum ayam berlaga, ayam Ciung Wanara berkokok dengan anehnya, melukiskan peristiwa benahun-tahun yang lampau tentang permaisuri yang dihukum mati dan kandaga emas yang berisi bayi yang dihanyutkan. Raja tidak menyadari hal itu, tetapi sebaliknya Si Lengser sangat terkesan akan hal itu.Bahkan ia menyadari sekarang Ciung Wanara yang ada di hadapannya adalah putra raja sendiri.

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                Setelah persabungan, ayam

baginda kalah dan ayam Ciung Wanara menang. Raja menepati janji dan Ciung Wanara diangkat menjadi putra mahkota. Dalam pesta pengangkatan putra mahkota, raja membagi 2 kerajaan untuk Ciung Wanara dan Hariang Banga. Selesai pesta pengangkatan putra mahkota Si Lengser bercerita kepada raja tentang hal yang sesungguhnya mengenai permaisuri Pohaci Naganingrum dan Ciung Wanara.

Mendengar cerita ini raja memerintahkan pengawal agar Dewi Pehgrenyep ditangkap. Akibatnya timbul perkelahian antara Hariang Banga dengan Ciung Wanara. Tubuh Hariang Banga dilemparkan ke seberang sungai Cipamali yang sedang banjir besar. Sejak itulah kerajaan Galuh dibagi menjadi 2 bagian dengan batas sungai Cipamali. Di bagian barat diperintah oleh Hariang Banga. Orang-orangnya menyenangi kecapi dan menyenangi pantun. Sedangkan bagian timur diperintah oleh Ciung Wanara. Orang-orangnya menyenangi wayang kulit dan tembang. Kegemaran penduduk akan kesenian tersebut masih jelas dirasakan sampai sekarang
Sumber : Ciung Wanara